Wali Kota Basri Rase Resmikan Pembangunan Vihara Pertama di Bontang

Peletakan batu pertama pembangunan Vihara Nanasamvara

Dejournalindonesia – Wali Kota Bontang Basri Rase meresmikan pembangunan Vihara Nanasamvara. Peresmian tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama, pembangunan rumah ibadah umat Buddha tersebut, di Taman Wisata Religi, Bukit Nusantara Permai pada Rabu (23/02/2021) pagi.

Dikatakan Basri, peresmian Vihara tersebut merupakan momentum bagi warga Bontang. Khususnya, para umat Buddha. Lantaran, dengan adanya Vihara Nanasamvara, melengkapi simbol keberagaman umat beragama yang ada di Bontang.

“Vihara ini kan simbol bagi umat Buddha dan perlu diingat bahwa hari ini merupakan sejarah. karena, selama Bontang berdiri, baru kali ini Vihara akan dibangun,” ujar Basri.

Lebih jauh, Basri mengatakan, Pemerintah Kota Bontang kedepan akan selalu mendukung pembangunan Vihara tersebut. Sebab, keberagaman umat beragama harusnya, dilindungi oleh negara, sesuai dengan amanat undang-undang.

“Di Bontang masyarakatnya heterogen, hampir semua suku dan agama ada disini. Sebagai pemerintah, kita harus hadir, untuk menjamin kebebasan mereka,” pungkasnya

Sementara itu, Pembina Vihara Nanasamvara Sony Lesmana, mengatakan, bukit Nusantara tersebut diharapkan akan jadi ikon wisata religi di Bontang. Dengan konsep, semua rumah ibadah umat agama lain, seperti Masjid, Gereja dan Pura akan dibangun di lokasi yang sama.

“Harapannya seperti itu, tapi sekarang kami fokus untuk pembangunan vihara dulu,” ujarnya

Ditambahkan, Ketua Panitia pembangunan, Rendy Kuncoro mengatakan, pembangunan vihara tersebut telah diupayakan sejak 25 tahun silam. Rendy menuturkan, hambatan pembangunan vihara tersebut karena tidak memenuhi syarat Peraturan Bersama Menteri (PBM) Nomor 9 dan 8 Tahun 2006.

PBM tersebut mengatur tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala atau Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Bergama, dan Pendirian Rumah Ibadah.

PBM itu mengatur untuk mendirikan rumah ibadah minimal 90 kepala keluarga, serta persetujuan 60 warga sekitar. Pun syarat itu bisa gugur kalau Wali Kota memberikan ijin pembangunan.

“Sebenarnya syarat jumlah tercukupi, tapi Wali Kota kita telah menyetujui. Makanya pembangunan vihara ini bisa terlaksana,” ujarnya

Pun berdasarkan pendataan dari pihaknya, vihara tersebut akan digunakan sekitar 800an umat Buddha.

“Umat Buddha ada sekitar 800 orang. Selama ini kami hanya beribadah di Cetiya. Tapi dengan adanya vihara ini, kedepan kami akan ibadah disini,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Wali Kota Sentil Lagi Pejabat yang Sering Telat Menghadiri Rapat
Next post Merugikan Negara Rp 424 Juta, 2 Mantan Direktur PT BME Ditahan